Showing posts with label e.g. scooters. Show all posts
Showing posts with label e.g. scooters. Show all posts

4/16/07

Kumis Pak Joko


Dia pensiunan tentara. Ngeposnya di pintu masuk, kalau kita akan ke kompleks perkebunan teh Ciliwung. Dengan kumisnya yang tebal dan badannya yang gempal, memang, selintas kelihatannnya pak Joko cukup seram. Tapi, kalau sudah cukup dekat, pak Joko adalah orang yang sangat ramah.
Yang jelas, pak Joko adalah sahabat kami, yang selalu bersiap kalau kami minta bantuan untuk sebuah pekerjaan. Sifatnya yang suka bercerita membuat kita tidak cukup bosan mendengar segala macam cerita pengalaman hidupnya. Suatu hari pak Joko bercerita tentang kasur di pos jaganya. Konon sudah sekian lama, kasur tempat para penjaga kebun teh itu tidak pernah diganti, otomatis tampilan dan baunya sudah sangat tidak laik.
Karenanya, kami bersepakat membelikan tempat tidur dari kasur yang baru. Walau sederhana, cukup pantas untuk para penjaga kebun teh itu merebahkan badan. Kami sangat merasa bersyukur mempunyai sahabat baru dari perkebunan teh. Seorang sahabat yang selintas wajahnya seram, tapi hatinya sangat lembut, penuh perhatian dan selalu menjadi teman yang hangat. Pak Joko akan menyapa anda di depan pintu masuk menuju perkebunan teh.

SURAT DARI CIKONENG : Pendidikan dan kepantasan sosial


Siapa sesungguhnya yang bertanggungjawab atas pendidikan bagi orang miskin ? Pertanyaan ini selalu menggangu benak pikiran saya. Sementara,kenyataan yang ada, pendidikan dasar yang sepantasnya, justru menjadi problem terbesar mundurnya kualitas intelektual bangsa Indonesia.
Sepanjang yang saya lihat, begitu banyak anak-anak dari keluarga miskin tidak mampu memperoleh pendidikan yang memadai. Selain sarana pendidikan yang buruk, anak-anak tidak menemukan suasana kegembiraan dalam belajar. Mereka cenderung m,endapatkan suasana pendidikan yang doktriner. Bukan model pendidikan yang dialogis, yang mengajarkan makna intelektualitas.
Andaikata, anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang menggembirakan, suasana bermain dan informasi yang sepadan dengan kepantasan seorang anak. Saya,harus merenung kembali; akan kemana perginya anak-anak Indonesia yang cerdas, manakala model pendidikan tidak mengajarkan sifat-sifat yang santun, berkualitas dan menanamkan budi pekerti itu.
Sulit membayangkan kehidupan Indonesia dengan model pendidikan semacam ini. Perlukah sebuah langkah yang lebih dari sekedar serius dalam menerapkan model pendidikan bagi anak-anak. Saya merindukan sebuah masa depan Indonesia, dimana anak-anak yang selalu gembira, kreatif dan menjadikan sekolah sebagai ruang yang indah serta menyenangkan.
Mimpi itu, sungguh masih jauh dari harapan.


Nor Pud Binarto
0811 86 11 85
norpud2007@yahoo.com

Keindahan yang terabaikan


Setiap orang punya takaran sendiri tentang keindahan. Umumnya, membayangkan keindahan sebatas keluasan mata menatap. Seperti, melihat indahnya debur ombak di pantai. Bisa juga, menatap rahasia alam di semak pegunungan. Semua itu, wajar-wajar saja.
Maka, marilah kita bicara keindahan perkebunan teh. Untuk dapat mencapai lokasi SDN Cikoneng, anda harus masuk ke perkampungan di balik rimbun dan sejuknya pegunungan teh. Memang, kalau anda sering ke Puncak, boleh jadi anda tidak merasakan; apa yang sesungguhnya berlangsung di balik keindahan itu ?
Di balik keindahan itu,ternyata, kita melihat kemiskinan yang berlangsung menahun. Kita telah diperdaya sejuknya hawa pegunungan. Kita telah ditidurkan oleh banyak kenyamanan. Kita, tidak pernah mau tau, begitu getirnya kegidupan sehari-hari pemetik daun teh. Mereka, selama bertahun-tahun hidup penuh kekurangan. Sementara di sekelilingnya, orang-orang Jakarta menikmati kesejukan Puncak. Tanpa menghiraukan apa yang terjadi di balik keindahan.
Marilah, kita masuk ke dalam dunia yang terabaikan itu. Masuk ke dalam rimbunan teh dan keringat para pemetiknya. Di situ ada kepedihan. Ada tanggung jawab sosial yang harus kita perhatikan. Ada anak-anak tanpa pelayanan pendidikan yang pantas. Sebuahy kemiskinan yang mensejarah. Penderitaan diantara indahnya puncak dan kebun teh. Ironis.

4/15/07

Andai Cikoneng punya Public Center


Aduh, bagaimana caranya ya dapat mewujudkan sebuah public centre untuk warga Cikoneng ? Macem-macem upaya sudah dilakukan, tapi hasilnya nihil. Dalam benak kami, di Cikoneng dibuat sebuah tempat kreatifitas warga. Bangunannya sih gak perlu mewah-mewah. Cukup dari seng, dan tanpa dinding.
Di tempat itu, rencananya, kita dapat mengajari warga dengan beragam keahlian. Mulai dari belajar memasak sampai kerajinan tangan untuk seluruh warga. Katanya, biayanya gak sampe lima juta perak. tapi, sampai hari nin belum juga didapat untuk membuat pusat kegiatan warga dan murid-murid SDN Cikoneng. Kami belum tau kepada siapa rencana ini kami sampaikan. Yang jelas, proposalnya udah kita sebarkan. Hasilnya ? ya seperti biasa; belum ada yang mendukung. Mungkin, diantara temen-temen bisa membantu mewujudkan gagasan ini ?
Andaikata kita bisa membantu warga Cikoneng dengan sebuah public center, mungkin kita bisa memulai perubahan sosial-ekonomi di tempat itu. Kita akan melangkah satu ayunan kaki. Harapan semakin dekat. Lebih cepat menjalani sebuah perubahan. Andaikata ?

Belajar Motret


Kawan, mungkin ini sebuah cara untuk mengenalkan anak-anak SDN Cikoneng untuk melihat dunia dengan caranya sendiri. Kami, mengenalkan adik-adik dengan memberi pengalaman untuk memotret dengan kamera profesional. Anehnya, mereka ternyata mudah mengenal teknologi ini. Kelak hasil jepretan anak-anak SDN Cikoneng akan anda nikmati dari halaman-halaman sederhana ini.
Mencari dan memberikan pengalaman baru yang membuat anak-anak SDN Cikoneng gembira, adalah mimpi kami. Dan, bilamana perasaan ingin berbagi ini, juga anda rasakan, sangat boleh jadi anak-anak SDN Cikoneng akan banyak pengalaman baru yang dapat dirasakan. Mungkin, anda bisa menjadi relawan yang mengajari anak-anak bermain gitar atau melukis, dan entah apa lagi yang bisa anda bagi untuk masa depan anak-anak Indonesia ini.
Terus terang, program ini adalah program yang terbuka bagi semua teman-teman. Mari kita memulai berbagi perasaan, rasa kasih sayang dan menanamkan keindahan bagi nasib anak bangsa tercinta kita. Andaikata ini dapat terwujud, maka kita tengah membuka jalan sutera bagi anak-anak di perkebuan teh itu.

Sekolah Naik Truk


Jarak antara sekolah dengan tempat tinggal anak-anak, sedikitnya 8 km. Mereka harus menembus jalan setapak berbatu kali. Setiap hari hujan turun. Dan bila truk perkebunan teh tiba, saatnya mereka punya kesempatan ke seokal dengan mengendarai truk teh. Bila tidak, seperti saat sekarang, katanya truknya sedang rusak, maka anak anak harus menempuh jalan kaki untuk dapat menempuh pelajaran sekolah.
Kisah anak-anak dengan jarak sangat terjal ini, terjadi hanya sekitar 2 jam perjalanan dari pusat kekuasaan Indonesia. Mereka adalah harapan masa depan Indonesia yang terabaikan. Entah karena apa, keterbelakangan ini terus menggerus warga di 3 desa (Cibelau, Cikoneng dan Rawa Gede) yang untuk sekian lama, hidup dalam belenggu kemiskinan. Adakah diantara kita mau peduli ? Beberapa teman sudah membantu untuk membelikan mantel hujan, sebab dengan cara itu anak-anak dapat menempuh pendidikan. Kita, tidak mungkin tinggal diam, jika kita merupakan bagian dari perasaan anak-anak itu.
Berjalan jauh, menempuh waktu yang tiada jarak dan akhir. Marilah kita berbuat sesuatu untuk anak-anak SDN Cikoneng. Mereka membutuhkan kasih sayang kita.

Lagu Garuda


Banyak pengalaman yang unik selama mengajar anak-anak di SDN Cikoneng. satu diantaranya adalah mengajar menyanyi lagu kebangsaan. Entah bagaimana ceritanya, anak-anak SDN Cikoneng menyanyikan lagu beragam lagu kebangsaan dengan hanya satu model irama. menyedihkan ?
Apa mau dikata, mereka memang tidak ada yang mengajari. Dari kondisi semacam itu, mau engga mau, temen-temen dari Anak Indonesia Gembira, ikut turun tenaga untuk mengajari adik-adik dari SDN Cikoneng untuk mempelajari bernyanyi. Walau, mulanya agak sulit. Tapi, pelan-pelan akhirnya anak-anak Cikoneng mulai mengenal lagu kebangsaan dengan cukup lumayan.
Pengalaman ini, keliatannya, sangat sederhana. namun, bila kita cermati secara seksama, bahwa menyangkut kebangsaan, jelas bukan perkara yang sangat sederhana. Ada banyak cara, kita memasuki wilayah untuk memahami dimensi kebangsaan, antara lain mengajari menyanyi. ya, begitulah langkah-langkah kecil yang dapat kami lakukan. Dari sebuah cita-cita kecil, cita-cita mengajari mereka dapat bernyanyi Garuda Pancasila dengan benar. Siapa tau ada gunanya.

Kejutan Bola Kaki


Dua minggu lalu, kami membawa 2 bola sepak. Anehnya, hari Sabtu kemarin, anak-anak itu tidak lagi bermain bola. Usut punay usut, ternyata bola sepak itu sudah rusak. Dalam waktgu dua minggu ? Ya, memang, anak-anak di SDN Cikoneng hampir tiada hari tanpa sepak bola. Akibatnya, bola kaki cepat rusak. Boleh dikata, bermain bola untuk anak SDN Cikoneng adalah kegiatan tiada henti. Sepanjang hari mereka hanya bergembira apabila bermain bola. Bahkan, yhang lebih menarik lagi, anak-anak peremkpuannya, juga mempunyai kegemaran bermain bola. Nah, perkara anak perempuan bermain bola ini, ada cerita yang khusus. Begini. Semula, kami mengira anak-anak perempuan punya kegemaran bermain kasti. Celakanya, ketika ditanya soal bermain kasti, eh.. mereka malah bengong. Jadi, kesimpulannya, anak-anak memeng cuma punya satu olah raga : MAIN BOLA.

Sebuah Ruang Bermain


Sebagai sebuah sekolah dasar, SDN Cikoneng masih jauh dari pantas. Letak SDN Cikoneng tertutup oleh bukit-bukit kebun teh. Sekitar 200 anak-anak harus menyusuri bukit teh, sebelum akhirnya sampai ke sekolah. Kalau mobil truk pengakut teh datang ke desa Cibelau atau Rawa Gede, maka anak-anak SDN Cikoneng terbebas jalan kaki sepanjang 8 km dari desanya untuk berangkat sekolah.
Akar masalah dari semua ini adalah kemiskinan. Bahkan, sejak perkebunan teh ini berada, pendidikan tertinggi di desa ini cuma sampai SD. Kalau sudah lulus SD lalu akhirnmya menikah, dan anak-anak mereka kembali menjadi pemetik teh. Lingkaran setan seperti ini terus berlangsung sepanjang sejarah bangsa ini berdiri.
Untuk mengajak mereka keluar dari kemiskinan, keterbelakangan semacam ini, tidak ada kata lain, kita harus bergerak menanamkan nilai-nilai baru yang menghantarkan anak-anak pada kenyataan baru. M ungkin, gerakan yang kita sepakati sebagai cara untuk memutus tali kemiskinan ini, masih terlalu jauh dari harapannya. Tetapi, sebagai sebuah upaya, tidak ada kata lain, kita bersama-sama harus memulainya dari sekarang.
Kita tidak mungkin membiarkan anak-anak itu terbelenggu dari satu kurun ke kurun untuk menjadi miskin. Mari kita mulai sebagai sebuah itikad untuk mengubah kemiskinan menjadi optimisme.